Jumat, 28 Maret 2025

Cara Menghaturkan segehan

 Menghaturkan Segehan



Terkait menghaturkan segehan, tentunya terdapat berbagai ragam rupa, bentuk dan jenis-jenis segehan.

Yang akan dijelaskan ini adalah cara dasar yang universal untuk menghaturkan persembahan ke alam-alam bawah, yang dapat digunakan untuk menghaturkan berbagai jenis segehan [kecuali untuk segehan saiban karena caranya berbeda]. Caranya sebagai berikut.

Pertama-tama perlu diperhatikan bahwa, ketidak-tepatan yang sering terjadi dalam menghaturkan segehan adalah tidak memperhatikan arah pengider-ideran Panca Dewata yang tepat.

Misalnya nasi warna putih pada segehan seharusnya di arah timur justru dipasang di arah barat. Padahal ketika kita menghaturkan segehan sangat penting untuk meletakkan posisi segehan pada pengiderideran yang tepat. Jangan diletakkan secara sembarangan, karena ini berkaitan dengan kekuatan suci Sanghyang Panca Dewata dan hal-hal lainnya. Sehingga segehan sebagai segel suci niskala ini nantinya kekuatannya benar-benar dapat bekerja.

Sama seperti canang, segehan jika dihaturkan sesuai dengan pengider-ideran yang tepat, juga merupakan segel suci niskala yang memiliki kekuatan kerja-nya sendiri. Tapi kekuatan-nya akan lebih aktif jika kemudian segel suci niskala ini kita hidupkan dan gerakkan dengan kekuatan mantra-mantra suci, tirtha [air suci], dupa dan kekuatan sredaning manah [kejernihan dan kebaikan pikiran].

Menghaturkan segehan harus diawali dengan niat sebagai belas kasih dan kebaikan kepada para mahluk-mahluk alam bawah dan dijalankan sebagai sebuah upaya untuk mengurangi kesengsaraan mereka. Pancarkan rasa belas kasih dari hati kita danp ancarkan rasa damai dari upaya kita.

Sifat mahluk alam-alam bawah sebenarnya tidaklah jahat. Mereka menjadi berbahaya karena manusia takut, menghakimi atau tidak menyukai mereka. Ketakutan, penghakiman atau rasa tidak suka ini membuat adrenalin di dalam diri manusian Naik, dimana adrenalin yang naik ini menghasilkan energi yang dirasakan oleh mahluk alam-alam bawah sebagai kekuatan yang hendak menyerang mereka. Itulah sesungguhnya yang menyebabkan mereka berbahaya.

Mahluk-mahluk bawah menjadi garang atau menjadi penuh kasih sayang, semuanya tergantung pada apa yang kita lakukan. Jika kita garang, mereka akan menyerang. Tapi jika kita memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, mereka akan menjadi penjaga yang sangat meyakinkan. Oleh karena itu, belajar memandang mahluk-mahlukb awah sebagai mahluk-mahluk menderita yang memerlukan pertolongan kita. Minimal setidaknya jangan berpikiran buruk pada mereka. Jauh lebih bagus lagi jika kita mendoakan mereka. Keberadaan mereka seperti siklus berputarnya bunga yang dapat berevolusi menjadi sampah dan sampah yang dapat berevolusi menjadi bunga.

Demikianlah evolusi jiwa-jiwa dalam siklus samsara, sesuai akumulasi karma kita masing-masing. Yang kita sebut sebagai mahluk-mahluk alam bawah, sangat mungkin di kehidupan-kehidupan sebelumnya adalah sesama manusia, yang bahkan kita kenal dekat. Alam kegelapan adalah sisi sampah dari alam suci. Tanpa kegelapan tidak ada kesucian. Tapi hakikat di dalam semua makhluk adalah sama, yaitu Atman.

Sehingga menghadapi mereka, selalu dengan pikiran positif, tenang-seimbang, penuh belas kasih dan kebaikan. Lihatlah mereka bukan sebagai mahluk-mahluk jahat, melainkan sama seperti kita, yaitu makhluk yang sedang belajar berkembang menuju kesadaran Atma.

Dalam ajaran dharma kita memberikan mereka persembahan, serta mendoakan mereka agar mereka damai dan bahagia. Ini merupakan bentuk belas kasih dan kebaikan kepada semua makhluk, sekaligus menebarkan energi keharmonisan dan kedamaian ke semua arah. Sebagai hasilnya, minimal setidaknya mereka tidak akan mengganggu kita.

Seburuk apapun para mahluk bawah tersebut, teruslah melihat mereka mahluk-mahluk baik, yang karena berbagai sebab saat ini sedang mengalami kesengsaraan, sehingga sangat memerlukan kebaikan hati kita. Ini satu-satunya cara untuk merubah mereka agar menjadi mahluk baik. Begitu mereka menjadi mahluk baik mereka tidak saja tidak akan mengganggu kita, tapi sekaligus di dalam diri jiwa kita sendiri juga menjadi terang dan indah.

Inilah urutan tata-cara dasar untuk menghaturkan persembahan segehan ke sor [ke alam-alam bawah], sebagai berikut di bawah ini.

A. Langakah- Langkah Menghaturkan Segehan

Langkah 1

Cara menghaturkan segehan adalah dengan meletakkannya di natah [tanah, lantai], atau di bawah, yaitu di Ibu Pertiwi, jadi bukan diletakan pada palinggih. Saat meletakkan [menghaturkan] segehan, kita juga harus memperhatikan arah mataa ngin terkait pengider-ideran Panca Dewata dan tata letak warna-warni segel kosmik pada segehan yang sesuai [misalnya nasi warna putih pada segehan di arah timur].

Pada waktu menghaturkan segehan hendaknya didampingi dengan menghaturkan canang. Canang ini berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata. Jangan lupa juga saat meletakkan [menghaturkan] canang ini memperhatikan arah mata angin terkait pengider-ideran Panca Dewata.

Tapi jika saat menghaturkan segehan tidak dapat kita dampingi dengan menghaturkan canang, maka selayaknya dalam ituk-ituk pada segehan kita isi dengan sedikit bunga. Bunga ini sama berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata.

Langkah 2

Selipkan sebatang dupa pada segehan, atau kita tancapkan di tanah.

Secara tradisional, pada segehan juga dipergunakan api takep [dari dua buah sabut kelapa kering yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda silang tapak dara atau swastika].

Tapi di jaman modern ini kita boleh cukup dengan menggunakan dupa saja, karena yang terpenting adalah kehadiran api-nya.

Dupa [atau api takep] adalah segel niskala untuk mengundang turunnya kehadiran Sanghyang Triyodasasaksi [tiga belas manifestasi Sanghyang Acintya] sebagai saksi semesta pelaksanaan sebuah yadnya, Sanghyang Agni sebagai penghantar yadnyad dan Sanghyang Brahma sebagai penerang jiwa semua mahluk.

Langkah 3

Kita lanjutkan dengan metabuh.

Kita tabuhkan berem dan arak dengan disiratkan memutar mengelilingi segehan [dan canang] ke kiri atau berlawanan arah dengan jarum jam sebanyak 3 [tiga] kali. Memutar ke kiri adalah simbolik [segel niskala] dari kekuatan memutar ke arah bawah [turun], atau dihantarkan ke alam-alam bawah.

Metabuh ini kita lakukan sambil mengucapkan mantra :

“Om ibek segara, Om ibek danu, Om ibek banyu premananing hulun“

Catatan :

Saat menyiratkan memutar ke kiri pertama ucapkan mantra “Om ibek segara”, menyiratkan memutar ke kiri kedua ucapkan mantra “Om ibek danu” dan

menyiratkan memutar ke kiri ketiga ucapkan mantra

 “Om ibek banyu premananing hulun“.

Langkah 4

Siratkan tirtha [air suci] sambil mengucapkan mantra :

“Ong Mang Parama-Shiwa amertha ya namah svaha“

Langkah 5

Ayabang segehan dengan menggunakan tangan kanan. Jepit bunga dengan jari telunjuk dan jari tengah. Gerakan ngayabang harus lembut dan jelas, dari sisi luar belakang ke arah depan. Sambil mengucapkan mantra menghaturkan segehan dan menyomiakan sarwa bhuta, untuk pencapaian kebahagiaan dan bebasnya dari kesengsaraan dari sarwa bhuta tersebut.

Terdapat 2 pilihan mantra untuk memberikan persembahan segehan ke alam-alam bawah. Mantra yang mana saja boleh kita gunakan [ucapkan]. Yaitu sebagai berikut.

Mantra pilihan pertama :

“Om Ang Kang Kasolkaya Isana wosat,
Om swasti-swasti sarwa bhuta sarwa kala sukha pradana ya namah svaha,
Om A Ta Sa Ba I sarwa butha sarwa kala
murswah wesat Ah Ang,
Ong sah wesat ya namah svaha,
Om shanti shanti shanti Om“

Mantra pilihan kedua [lebih pendek] :

“Om Sa Ba Ta A I Panca Maha Bhuta ya namah svaha,
Om swasti-swasti sarwa bhuta sarwa kala sukha pradana ya namah svaha,
Ong sah wesat ya namah svaha,
Om shanti shanti shanti Om“

Intisari dari makna 2 [dua] mantra tersebutadalah mendoakan mahluk-mahluk bawah agar mereka bahagia bebas derita.

Langkah 6

Kemudian kita lakukan metabuh sekali lagi [metabuh kedua]. Kita tabuhkan berem dan arak dengan disiratkan memutar mengelilingi segehan [dan canang] ke kanan atau searah dengan jarum jam sebanyak 3 [tiga] kali. Ini adalah memutar dengan arah yang sebaliknya dari metabuh yang pertama.

Memutar ke kanan adalah kekuatan memutar ke arah atas [naik], atau mengangkat naik ke alam-alam suci. Ini disebut ngeluhur, yaitu kekuatan untuk menghantar naik ke alam-alam suci.

Metabuh ini kita lakukan sambil mengucapkan mantra :

“Om ibek segara, Om ibek danu, Om ibek banyu premananing hulun“

Catatan :

Saat menyiratkan memutar ke kanan pertama ucapkan mantra “Om ibek segara”, menyiratkan memutar ke kanan kedua ucapkan mantra “Om ibek danu” dan menyiratkan memutar ke kanan ketiga ucapkan mantra 

“Om ibek banyu premananinghulun“.

Langkah 7

Setelah selesai metabuh, kita sirat-siratkan kembali tirtha [air suci] sambil kita mengucapkan mantra :

“Ong Mang Parama-Shiwa amertha ya namah svaha,

Om ksama sampurna ya namah svaha,

Om siddhirastu tat astu astu svaha”

Dengan demikian kita telah memberikan segehan [hidangan makanan] yang ditujukan ke sor. Kita telah melakukan upaya untuk menyomiakan sarwa bhuta [mahluk-mahlukalam bawah], serta sekaligus mengharmoniskan kembali getaran energi negatif di sekitar lingkungan kita. Dengan satu-satunya tujuan, yaitu dengan dasar

belas kasih dan kebaikan, agar semua mahluk bahagia bebas derita


B. Segehan pada tingkat rumah tangga  saat  perayaan tawur Agung Kesanga 

Segehan di tujukan kepada sang kala tiga bucari yaitu : Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari :

1. Di HALAMAN MERAJAN KEMULAN dihaturkan

Segehan Agung Cacahan solas (11) Tanding dengan tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari,

Mantramnya :

“Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”

2. Di PEKARANGAN RUMAH

Dihaturkan segehan Manca Warna Sia (9) Tanding, berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni) dengan tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada

Sang Kala Bhucari,

Mantramnya :

“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”


3. Di LEBUH RUMAH atau Pamedal Karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan.

Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem)

- Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepadaS ang Durgha Bhucari.

Ring Sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan Manca Warna sia (9) Tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja.

Selain itu juga dihaturkan SEGEHAN Cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, Segehan Agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala.

- Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga.

Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha.

Mantramnya : 

“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”

Ampura yening wenten perbedaan kembali kepada desa mewicara( desa kalapatra) , kutipan puniki dimuat kembali bertujuan untuk saling berbagi mangde sami belajar lan eling ..

Matur suksma 🙏🙏

Om santi, santi, santi om


Selasa, 07 Februari 2023

KIDUNG WARGASARI





1.
Ida Ratu saking luhur,
 kawula nunas lugrane,
 mangda sampun titiangtandruh, 
mangayat Bhatara mangkin, 
titiang ngaturang pejati, 
canang suci landaksina,
 sarwa sampun puput, 
pratingkahing saji.

2.
Asep menyan majegau, 
cendana nuhur dewane,
 mangda Ide gelis rawuh, mijil
sakeng luring langit, 
sampun madabdaban sami, 
maring giri meru reko,
ancangan sadulur, 
sami pada ngiring / mengiring.

3.
Bhatara/bhatarane saking luhur,
 nggagana / ngagoda diambarane,
panganggene abra murub, 
parekan sami mangiring,
 widyadara-widyadari,
pade madudon-dudon/dodonan, 
prabhawa kumetug, 
angliwer ring langit.

4.
Di bale manike luwung,
 mapanyengker ring telagane, 
kadingin tunjung tutur,
tunjung abang tunjung putih,
 ring madyaning bale alit,
 Ida Bhatara mabawos,
nanggit sekar jepun,
 sekarang ke Bali.

5.
Ring bale emase paum, 
linggih Ida Bhatarane, 
bale mas ngranyab murub,
upacara sarwa luwih, 
luhure sutra putih,
 Ida Bhatara mabawos, 
bawose diluhur,
 pacang turun gelis.

6.
Asep-pejati wus katur, 
mendak Ida Bhatarane, 
peneteg lan canang arum,
canang gantal / gontal canang sari, 
parekan pada / sami menangkil, 
pedeksami nunas ica, 
nyadpada/ngadepade menyungsung, 
ngaturang palinggih.

7.
Tengeran Bhatara rawuh, 
ketug lindu manggalane / 
ambarane, kilat tatit
kuwung-kuwung / kawung-kawung,
 dumilah ngadeg ring langit,
 raris / riris maduluran angin, 
mangalinus maring jagat,
 rempak taru rubuh,
 katiban angin.

8.
Bhatara makire tedun / rawuh,
 anglayang diambarane, 
bhusanane sarwamurub, 
tur anunggang wyala pati, 
warnane angresing / angreseng hati,
risampun prapti/prapta ring pura,
 ancangan tumurun, 
natasang palinggih / pelinggih.

9.
Bhatarane sampun rawuh, 
malinggih di padapane,
 meteja kencana atut /anut,
 parekan sampun / sami manangkil,
 para mancapara kulit, 
pada walen /prewelak pemaksan permas / pramas,
 sami ngagem santun, 
pada / pacang
ngaturang / ngatur bhakti.

10.
Bhatara arsa anulu,
 kidul kulon lor wetane, 
wireh sami asri anut, 
laluhure sarwa putih, 
ulap-ulap sarwa kuning, 
lalang sene permas ijo, 
sami angulangun, 
sami pada becik.

11.
Unen-unene makuwug, mendag Ida Bhatarane, gong gambang gender lan
angklung, guntang kalawan seketi, tapel pajegan kapuji, saron semar
pagulingan, ramya pada nabuh, swaranganyih-anyih.
12.
Baris bedil mamucuk, mendak Ida Bhatarane, baris-tumbak baris tulup,
gambuh parwa bali, resijojor legong rangin, luwih sanghyang jaran reko, sami
sampun rawuh, Ida Hyang nyelehin.
13.
Malinggih ring gedong sampun, mungwing punika gedonge, gedong menyan
gedong madu, upacara sarwa ngrawit, dumilah ring pura suci, sinaiban pajeng
robrob, tuwek payung pagut, lalontek pangawin.
14.
Sasangga mwang umbul-umbul, akeh wong merca padane, padenye pada
sumuyung, wrdda anom agung alit, sami pada nyadya tangkil, sami pada
nunas sweca, sami pada nyungsung, sami pada bhakti.
15.
Ong / Oom awighna / awignam pakulun, mangarcana Bhatarane, mangayap /
mangayat ngaturang kukus, maduluran pangabhakti, miwah sahananing suci,
mangda Ida sweca nonton, turun saking luhur, kawula manangkil.
16.
Pangradanane kaluhur, maka pangundang dewane, asep menyan majegau,
ambunnyane mrik sumirit, candana pada masandi, mamendak Ida Bhatara,
Anggena di luhur, ngaran tiga Cakti.

17
Sada Ciwa majagau, Prama Ciwa candanane, menyane Bhatara Guru, kukuse
nepud ka langit, punika anggen pamargi / memargi, pacang turun ring
kahyangan, mangda / apang gelis rawuh, manusa manyiwi.
18.
Pengsatawane / pangaksame wus puput, turun Ida Bhatarane, saking purwa
Ida turun, skendran sami mengiring, Widyadara-Widyadari, sami pada
papatehan, panganggene murub, sarwa ratna ngendih.
19.
Sanjata bajrane dumun, babaktan/bebaktian Widyadarane, pajeng robrob
umbul-umbule, bhusanane sarwa putih raris tumurun ring bhumi,
mapangawin danda kawot, ring daksina tedun, bang bhusanane ngendih.
20.
Pangastune / pangastuti kaluhur, angregepang radanane, ne ring purwa puji
dumun, ring daksina ne kaasti, pascima sareng astuti, ring uthara karedana,
mantuk madyeng bhayu, mayoga nganjali.
21.
Maprebhawa ketug-lindu, sumyok ujan rajane, teja ngadeg lan kauwung,
sanjata pada rumihin, panganggene sarwangendih, sahanane permas rakta,
galang endih murub, Iwir mrtyu sumilir.
22.
Ring pascima Ida turun, ngapaca sanjatane, saupacarane dumun, bhusana
sarwa kuning, katon kadi gunung sari, payase ngrawit tinon, mapenekes
gelung, sarwa mas kinandi.
23.
Ring uthara Ida turun, sami krsna bhusanane, sanjata cakrane dumun,
maduluran hujan angin, kelepe pada maganti, tatit kilape macanda, anduse
mangelinus, Iwir mubu ring langit.
24.
Blengbong lan ucur-ucur, peteng dedet kang limute, maring tengah Ida turun,
malinggih ring candi manik, sanjata padma sinandi, bhusanane macan warna,
mapan sampun puput, pangideran gumi.
25.
Iringane sami kumpul, pada becik tatane, ane ring pasamuan agung, saidering
Padma-Sari, pinuji sanjata nyandi, danda cakra ngapaca, bajrane ring nyun,
mapan Pan-Dewi.

26.
Brahma Wisnu wus ngrangsuk / mengerangsuk, Icwara Mahadewane, irike
pada malungguh, Ciwa ring madya nyelehin, pada mangolingin linggih,
Brahma tengen Wisnu kiwa, Icwara ring ayun, Mahadewa nguri.
27.
Sampun Ida maraga putus, raris munggah kegedonge, gedong ratna saking
luhur, Hyang Wicwa-karma makardi, makori emas mangrawit, mangocara
Windu-sara, sasocane mancur, sarwa imirah manik.
28.
Telagane maisi tunjung, wetara suranadine, papetete saking luhur, punika
wantah pinuji, tunjunge masari kuning, mapalawa mas matatah, gandaya
mangalup, sekar solas warni.
29.
Manik mancur mirah dadu, ratna nilalan widura, mangelencok endih murub,
mangasorang tejaning rawi, pateh ring rahina wengi, ring natare makalangan,
mateja kaluhune, majelijih manik.
30.
Ingideran sarwa santun, mwang sahananing sekare, sami pada mawangum,
semar ganda mrik sumirit, para sutrine menangkil, menyaksinin patoyan,
sami ngawe kukus, maduluran bhakti.
31.
Pangaksamane kaluhur, manunas waranugrahane, manawi kirangne katur,
agung sinampura ugi, canange asebit sari, apang ica Ida nonton, nodya saking
luhur, mamuputang sami.
32.
Turun tirta saking luhur, Pamangkune manyiratang, mangelencok muncrat
mumbul, mapan tirta merta jati, paican Bhatara sami, panyupatan /
pangelukatan dasa mala, sami / apang pada lebur, malane ring bhumi / jagat.
33.
Munggah Ida Mangeluhur, masimpen kagedong emase, gedong emas ngendih
murub, mapapelok mirah adi, wenten ne nganggen pelipid, mirah ratna
mungwing pucak, katon ngendih murub, tan yogya nyuluhin.
34
Mantuk iratu mantuk, munggah maring ka gedonge, gedong maundag selikur, korinnyane mencak saji, titiang ngaturang sabit sari, asep menyan katur reko, mantuk iratu rahayu, dasarane tan mangiring.
35.
Purwakaning Angripta Rum, Ning wana ukir, kahadang labuh kartika,
panedenging sari, angayom tangguli ketur, angring-ring jangga mure.
36.
Sukania harja winangun, winarna sari rumruning puspa, prijaka ingoling
tangi, sampuning riris sumarwup, umungguing srengganing rejeng.
37.
Turun tirta saking luhur, tirta panca dewatene, Wisnu tirta kamandalu, hyang
iswara sanjiwani, mahadewa kundalini, hyang Brahma tirta pawitra, hyang
siwa pemuput, amerta kinardi.
38.
Seger-Oger kamendalu, sanjiwani pikukuhe, ngardi jagat pang rahayu, pawitra
kesucian hati, trepti sandi kundalini, sadia sekala lan niskala, amerta nama
rum, lana kong pinuji.
.

Jumat, 25 Maret 2022

KIDUNG WARGA SARI




MENDAK BHATARA

(wargasari)

1.Asep pejati wus katur,

Mendak Ida Bhatarane,

Peneteg lan canang arum,

Canang gantal canang sari,

Parekan pada menangkil,

Pedek sami nunas ica,

Ngadpada manyungsung,

Mengaturang palinggih.


2.Tengeran Bhatara rawuh,

Ketug lindu manggalana,

Kilat tatit kuwug-kuwug,

Dumilah ngadeg ring langit,

Raris maduluran angin,

Mangalinus maring jagat

Rempak taru rubuh,

Katibanan angin.


3.Bhatara makire tedun,

Anglayang diambarane,

Busanane sarwa murub,

Tur anunggang wyalapati,

Warnane angresing hati,

Risampun prapti ring pura,

Ancangan tumurun,

Natasang pelinggih.


4.Dibale manike luhung,

Mapanyengker ring tlagane,

Kadagingin tunjung tutur,

Tunjung bang tunjung putih,

Ring madyaning bale alit,

Ida Bhatara mabawos,

Nganggit sekar jepun,

Sekarang memargi.


WARGA SARI

1.Purwakaning angripta rum,

Ning wana ukir,

Kahadang labuh kartika,

Panedenging sari,

Angayon tangguli ketur,

Angringring jangga mure.


2.Sukania harja winangun,

Winarna sari,

Rumrumning puspa priyaka,

Ingoling tangi,

Sampuning riris sumahur,

Munggwing Srengganing rejeng.



IDA RATU

1.Ida ratu saking luhur,

Kawula nunas lugrane,

Mangda sampun titiang tandruh,

Mengayat bhatara mangkin,

Titiang ngaturang pejati,

Canang suci mwang daksina,

Sarwa sampun puput,

Pretingkahing saji.


2.Asep menyan majagahu,

Cendana nuwur dewane,

Mangda ida gelis rawuh,

Mijil saking luring langit,

Sampun medabdaban sami,

Maring giri meru reko,

Ancangan sadulur,

Sami pada ngiring.


3.Bhatarane saking luhur,

Ngagegana diambarane,

Penganggene abra murub,

Parekan sami mangiring,

Widyadara – Widyadari,

Pada madudon dudonan,

Prebhawa kumetug,

Angliwer ring langit.


4.Dibale manike luwung,

Mapanyengker ring telagane,

Kadagingin tunjung tutur,

Tunjung abang tunjung putih,

Ring madyaning bale alit,

Ida Bhatara mabawos,

Nganggit sekar jepun, 

Sekarang ke Bali.


5.Ring bale emase parum,

Linggih Ida Bhatarane,

Bale mas ngranyab murub,

Upacara sarwa luwih,

Luhure sutra putih,

Ida Bhatara mabawos,

Bawose diluhur,

Pacang turun gelis.


BRAMARA NGISEP SARI

1.Om om sembah i katunan,

Dumadak juwa keaksi,

Munggwing pangubhaktin titiang,

Diastun langkung tuna sami,

Pakirang artha wibawa,

Nista solah lawan wuwus,

Miwah banget hina budhi.


2.Mogi tan kecakra bhawa,

Titiang i katunan sami,

Nista kaya wak lan manah,

Langgeng ngulami Hyang Widhi,

Sang suksma maha acinthya,

Nirbhana siwa kasengguh,

Singidang ring tampak aksi.


NING SUCI

Ning suci bhakti sumawur,

Canang tetep pingature,

Tetep labe putih kuning,

Pametik jepun sumadi,

Jambe anom ludra tiga,

Papijitan soroh lumlum,

Gande maosari.


NGASTAWA DEWA 

(adri)

1.Tembang adri pengastawa ayu,

Ngastawa Ida Bhatara,

Ngastiti Ida Hyang Widhi,

Dasa indria sami kumpul,

Panca wisayane kumpul,

Malih maring rasa sukla,

Ring putih hati manerus,

Bayu sabda idep sukla,

Anggragap pranawa sukla.


2.Egar manah ira ngesti hayu,

Ngesti Bhatarane,

Kalih Ida Sang Hyang Widhi,

Madak ica ida nerus,

Betel kangin betel kauh,

Ngulayang ka welas harsa,

Angestiang brata sadhu,

Ngesti Ida Hyang Bhatara,

Nunas sarining amerta.


TURUN TAUN

1.Turun taun sigedong sari,

Mumbul katon swarga mulya,

Langan de side nurunang sari,

Sarin mretha sarin sedana,


2.Kukus katon siputiq jati,

Margan de side siq micayang,

Muncrat mencur tirtan de kaji,

Sweca de kaji bepaica.


3.Kaji ngaturang pangubhakti,

Bhakti nunas panugrahan,

Muncar katon gedong de kaji,

Atep maniq kertha muliya.


4.Lawang emas winten sari,

Tēmbok emas becerancang,

Bepelinggihan kursi maniq,

Pengayah atep lēq natar.


MANDAMALON

OOO/O-O/-OO/O-O/O-O/OO

1.-.Stutinira tān tulūs Sinahurān paramārta Çiwa,

-.Anaku huwūs katōn Abimantānta temūnta kabeh,

-.Hana panganūgrahāngku Çadhu sākti winĩmba sara,

-.Pasupati sāstra kāstu Pangarānnya nihān wulati.


2.-.Wuwus sira Sānghyang Ĩçwara mijĩl tang apūy ritangan,

-.Wawang asarĩra katāra mangĩnditakēn warayang,

-.Tinarima Sāng Danān Jaya tikāng sara sūksma tika,

-.Nganala sarĩra sātmaka lawān warayāng wekasan. 


3.-.Kretawara Sāng Danān Jaya manembāh hatĩ pranata,

-.Pinisalinān larās makuta Tan hanā kalah hālah,

-.Winara warāh sirēng aji danūr dara sāstra kabeh,

-.Kreta semayāng prayōga dadi sūksme Bhatāra Çiwa.


4.-.Sahasura sĩddha çārana parēng kesana sūnia mwah,

-.Rasa tanirāt hidēp nrepati putrā katōnanira,

-.Kadi masalĩn sarirā suka tan pabalĩk prihati,

-.Satiru tirūn kretārta sira denĩ kadhira nira.


5.-.Hanamara jānma tān pamihutang brata yōga tapa,

-.Angentul amĩnta wĩrya sukanĩng Widhĩ saha sika,

-.Binalikakēn purĩh nika lwĩh tinemūnia lara,

-.Sinakitanĩng rajāh tamahinān dehāning prihati.


PUPUH JERUM

1.Kidung pangundang ring bhuta,

Basa lumbrah pupuh jerum,

Bhuta asih Widhi asung,

Caru pasajene reko,

Genep saha upacara,

Manut warna lawan ungguh,

Sekol iwak pada bina,

Olah-olahan sadulur.


2.Pangideran panguripan,

Kangin panca putih mulus,

Kelod siya barak mungguh,

Kawuh kuning pitu enggon,

Kaje selem urip patpat,

Manca warna tengah brumbun,

Akutus panguripannya,

Babhutane manut ungguh.


3.Kangin ring angin magenah,

Kelod ring api amungguh,

Ring tanahe sane kawuh,

Kaje ring toya manongos,

Ring embange bhuta tengah,

Malih sane bilang bucu,

Manut urip lawan warna,

Tengos babhutan karedung.


4.Kaje kangin urip nemnem,

Yen ring warna rupa klawu,

Kelod kangin hurip kutus,

Nasak gedang warna kawot,

Kelod kawuh warna kwanta,

Panguripannya tetelu,

Kaje kawuh warna gadang,

Jati tunggal hurip ipun.


5.Babhutania ne kinucap,

Prete pisaca aran ipun,

Bhuta kala dengen rusuh,

Ring durgama ne manongos,

Ring alas tukad segara,

Ring pangkung pangkung kredung

Genep sami siya warna

Kang inundang sida rawuh.


6.Yan sira sampun wus nadah.

Gati prasama mewantuk,

Ngungsi unggwane swang mantuk

Aja mami gena wong,

Miwah mami gena yadnya,

Asih kumasih satuwuk,

Ngawe degdeg jagad raya,

Jane pade manggih hayu.


NGIRING MANGKIN

Ngiring mangkin tampekang

Malinggih raris mebhakti,

Mengayat ngaturang canang,

Canang sari segewan daun,

Maduluran canang gantal,

Sajeng sari,

Kukuse mengasti dewa.


MERDUKOMALA

---/OO-/O-O/OO-/O-O/OO

1.-.Ong sembahning anata tinghalana detriloka sarana.

-.Wahyedyatmika sembahning hulun, ijengta tan hana waneh.

-.Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadi kita.

-.Sang saksat metu yan hana wang amuter tutur pinahayu.


2.-.Wyapi wyapaka sarining parama tatwa durlaba kita.

-.Icchantang hana tan hana ganal alit lawan hala hayu.

-.Utpatti sthitti linaning dadi kita ta karana nika.

-.Sang sangkan paraning sarat sakala niskalatmaka kita.


TOTAKA

1.Çaçiwimba haneng ghata mesi banyu

Ndanasing suci nirmala mesi wulan

Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin

Ring angambeki yoga kiteng sakala


2.Katemunta mareka sitan katemu.

Kahidepta mareka sitan kahidep

Kawenangta mareka sitan kawenang

Paramarta siwatwa nirawarana


TIRTA UTAMA 

( adri )

1.Tirta utama lwir sandi nerus,

Icenin para damuhe,

Sane sandi mapasupati,

Penyapsap lara agung,

Salwire lara kesapuh,

Moksah hilang gelis punah,

Hala hilang leteh dudus,

Mundur kegumi kahyangan,

Tibenin tirtha utama.


2.Tirta utama sakti manerus

Paicain kaulane mangkin

Ne sandi mapasupati

Panyupatan lara agung,

Salwiring lara kasapuh

Hilang muksa maring sunya

Letuh hilang hala dudus

Katibening antuk tirta

Paican Ida Bhatara.



TURUN TIRTHA

(turun taun)

1. Nunas tirtha ring Hyang Widhi

Kalih Ida Hyang Bhatara

Tirtha suci maha sakti

Pangleburan dasa mala


2. Kawula nunas amertha suci

Ne nyiratang pinandita

Raga suci manah ening

Tetuladan para warga


NUNAS TIRTHA

(wargasari)

1.Turun tirtha saking luhur

Tirtha panca Dewatane

Brahma tirtha kamandalu

Hyang Iswara sanjiwani

Mahadewa kundalini

Hyang Wisnu tirtha pawitra

Hyang Siwa pamuput

Amertha kinardi. 


2.Turun tirtha saking luhur

Ne nyiratang pemangkune

Makalangan muncrat mumbul

Mapan tirtha amertha jati

Paican bhatara sami

Panglukatan dasa mala

Sami pada lebur

Malane ring gumi.


3.Nunas tirtha pangelebur

Wangsuh pada Dewa Dewi

Tirtha suci adi luhung

Tirtha amertha jati sidhi

Panugrahan dewa sami

Brahma Wisnu Maheswara

Laksmi Uma Sambu

Nglebur malan gumi.


M I J I L

Sampun puput nunas tirtaning suci,

Trepti jaba jero bayu landuh,

Sabda lan idepe,

Ngepah muput matur pangubhakti,

Om Shanti Shanti Shanti,

Mangguh hayu teduh landuh.



Puput

OM Santi Santi Santi OM

























Jumat, 26 Januari 2018

SATUA BERAS KUNING

Kacrita Maharajan Pretu dadi ratu luih dijagaté. da meraga darma tutur dana teken panjak. Asing-asing ané katunas olih panjaké kapica olih Ida Sang Prabu. Ida setata malaksana madasar yasa kerti.
Ento mawinan panjake makejang marasa bagia tur subakti tekén Ida Sang prabu.
Jani Maharaja Pretu nitahang panjaké ngabas alas. Ida mapikayun bakal ngerayanang tegal carik Mawinan ada tegal carik. Mawinan panjaké sumuyug ngaturang ayah. Makejang pada sregep ngaba prabot, makadi piranti anake magae di carik. Ada ane ngaba mandik, panampad, muah pacul.
Panjaké pada gupuh magarapan. Tusing ngitung tuyuh mesuang peluh. Kayuné ané kototor. Ebeté ane nglikadin kaabas. Kétkét muah dui-dui kagediang Luuné kapunduhang laut katunjel. Ento mawinan dadi galang prejani.
Sasubané linggah maan ngabas alas, tanahé lantas karatayang. .Ané Iebah kaurugin, ané tegeh kasapin, mawinan dadi dangsah. Pradé ada batu gedé, lantas laut katuludang sibarengan. Jani batuné dadi dasar temuku.
Yéhné ane suluk ditukadé kaempelin, mawanan dadi maembah ka tanahé ané Iinggah. Ditu panjaké ngaeé jelinjangan muah kakalén. Man tetakehan sepat banyu muah sepat gantung tanahé rata maan embahan yéh. Tanahé ané suba tiyeb lantas gaenanga pandudukan,mawanan dadi carik. Tanahé ané tusing kena embahan yéh laut dadi tegalan.
Maharaja Pretu ngepah carik muah tegalan ané suba pragat. Makejang panjaké kaicén duman. Tur ngadikayang panjaké apang ngaé pakubon. Tongos masayuban dinujuné panes banteng muah madayuh di unjuné ujan angina. Dum-duman tegal muah cariké madasar sagilik saguluk, paras-paras sarpanaya, saulung sabayantaka. Mawanan panjaké makejang pada lega tur jemet magarapan. Ditu ia mamula woh-wohan muah umbi-umbian.
Jani Maharaja Pretu nunas ica ring Ida Batari Sri mangda kapicayang bibit padi catur warna. Apang prasida jangkep isin guminé. Ditu panjaké ngiring sang prabu nunas ica di pura Panungun Carik. Upakarané suba pada cumawis manut Darma Pamaculan. Sasubané ngaturang ayah ada suara ngawang-ngawang kapireng uli langit.
“Uduh, Cening Maharaja Pretu! Luih pesan parilaksanan ceninge nitahang panjak. Tur cening tusing engsap ngaturang sembah tekén mémé. Apang cening nawang, mémé bakal mapaica bibit padi caturwarna tekén cening. Sakéwala antosang buin abulan pitung dina, ditu mémé bakal mapétin bibité tekén cening".

Mara kéto sabdané uli langite dadi ledang pikayunan ida sang prabu. Sawireh maciri panjaki dané bakal lanuh tusing kuangan pangan kinum. Panjaké sayan-sayan jemet magarapan, tur tusing ngengsapang pangaciné di pura Pangulun Carik.
Nemonin dina Saniscara Kliwon wuku Wariga, ditu Ida Batari Sri nguduhin kedisé petang ukud apang tuun ke marcapada. Makejang kandikayang ngaturang bibit padiné cartur warna ring ida sang prabu. Sawireh Maharaja teleb pangastiti Ida Batari Sri.
Cicit padiné ané mawarna putih madan ketan. Kekeberang olih I kedis kuteh. Kelap-kelap kecerané di Iangite .. Ngungkulin gunung ané tegeh ngalik. Ngliwatin pasih ané Iinggah tur dalem.
Bibit padiné ané mawarna madan gaga. Kkeberang olih I kedis sugem. Ngabar-abar keberané duur bukité. Kabatek baan joh tur panes langité. Mawarna ia marasa kenyel muah bedak layah.
Bibit padiné wawarna selem madan injin. Kakeberang olih | kedis dara. Nyamut-nyamut pakeberané duur ambuné. Panes bara karandangin. Bedak layah karanggehin masan ujan. Makejang entikané malejit. Bunga-bungané nedeng kembang. Woh-wohané nedeng nged pesan mabuah. Kala ditu kedisé pada teked di ajeng ida sang prabu. Laut ngaturang bibit padi paican Ida Betari Sri.
Kedis kuteh matur dabdab pesan. ”Ratu sang prabu! Punika padi mawarna putih mawasta ketan. Dados anggen sanganan pacang aturang ring ida batara. Makadi sanganan begina, muah sangganan abug”.
Kedis Sugem matu alon pesan. ”Ratu sang prabu! Punika mawasta gaga. Dados pula ring tegalé. Tur dados anggén caru ring upakara. Sané pacang katutur ring Ida Batara.
Kedis dara matur aris pesan!. ”Ratu sang prabu! Puniki mawasta injin. Dados anggén tapé. Sané dados anggén manisan ri kala nanding pajengan. Baremnyané dados anggen katon ri kala makarya dodol maduparka.
Katung raras matur karungah-rungah. ”Ratu Sang Prabu titiang nunas ampura. Titiang néntén ngaturang pré. Sawireh paréréné bakat eled titiang tur sampun penunang titiang. Mangkin tampuh mentik dados kunyit.
Keto katutunan ané malu, awanan kayang jani tusing ada baas mawarna kuning sawireh suba dadi kunyit. Sangkala yéning ngae nasi kuning patut kunyité ané anggen warna.

Selasa, 17 Oktober 2017

SATUA I SANGGING LOBANG KARA

I SANGGING LOBANGKARA

Ada Tuturan Satua I Sangging Lobangkara, geginané ”gambar dogén, tur dueg pesan magegambaran, sai-sai koné keto dogén gegaené.

Kacarita I Sangging Lobangkara dauhina koné tekén Bhatara klungkung, tangkil lantas ia, disubané
I Sangging Lobangkara tangkil, matur lantas ia nunasang awanan déwékné kasengan. Ngandikan Ida Bhatara, “O, krana gelah nundén cai tangkil, gelah nunden cai, gaénang gelah puri apalebah tur apang misi togog” ISangging Lobangkara sariring.

Suba kéto, gaé Iantas ia puri muah togog. Sawatara ada abulan garapa, pragat lantas puri ida Bhatara Klungkung. Beh, angob pesan Ida Bhatara tekén kakawihan puriné.

Buin ngandikan Ida Bhatara, ”Béh yén saja cai ririh ngambar indayang jani kurenan gelahé gambar! Yén patuh ja Ratu Bhatara, yén icen ja titiang ngeton warnan rabin Ratu Bhatara, titiang ngiring pakayunan.

"Nah".

Jani telektekanga lantas warnan rabinané, suba kéto lantas gambara. Tusing mekelo I Sangging Lobangkara ngambar, lantas pragat. Sasubané pragat lantas aturanga tekén Ida Bhatara. Béh, buin angob pesan kayun Ida Bhatara, déning nyidayang patuh buka warnan rabiné.

Buin lantas kandikayang ngambar sakancan buroné di alasé, kidang, menjangan, macan muah ane Ién-Iénan. Déning keto luas lantas ! Sangging Lobangkara ngalas.

Sasubané neked di alasé, tepukiné sang macan, nget tuara galak, lantas ngambar. Suba pragat bana ngambar, lantas buin majalan ngalih buronan ané lénan. Kéto dogén undukné I Sangging Lobangkara, kanti telah bana ngambar sakancan buronan. Suba telah bana ngambar, lantas I Sangging Lobangkara mulih.

Sasubane neked di puri, lantas aturanga gambarné teken Ida Bhatara. Mara kacingak gambarné ban Ida Bhatara, angob pisan kayun idané, bana nyidayang ngambar buron alasé makejang. Ngandika Ida Batara ”Ih cai Sangging Lobangkara, nah jani gelah nundén buin ngambar be isin pasihé makejang! “lnggih Ratu Bhatara titiang nawegang pisan, tan purun titiang nyilem ring pasihé, yén tan padem bekbekan, " Ida Bhatara lantas kapasisi ngaba bedah. Sasubané neked di pesisi, lantas ia macecep di gadahé ento tur lantas ia nyilem di pasihé.

Kacarita suba jani ditengah pasihé, lantas nepukin bé liu pesan tur magenepan gobané, ento lantas gambara.
Gelisang satua, telah lantas bana ngambar bé pasihé lantas ia kasisi tur mamesu uli tengah gadahé.

Suba jani nganteg di puri, aturanga lantas gambare teken Ida Bhatara. Mawuwuh-wuwuh angob Ida tekén kaduegan I Sangging LObanSkara ngambar. Lantas ditu ia kadikayang ngambar isin langité makejang Matur I Sangging Lobangkara, Inggih Ratu Bhatara miang ten pisan uning makeber”. Ngandika Ida Bhatara ”Yen kéto ne anggon tegakin, nyidayang cai ka ambarané! ”ngiring lantas I Sangging Lobangkara, tur negakin goangané, keberange lantas I Sangging Lobangkara.

Kacarita tegeh pesan suba gagoangane, masih enu dogén ngamenékang, sayan makelo sayan saru, kanti tusing ngenah. Makelo-kelo pegat lantas tali gagoangané, tur gagoangané menekang dogén.

Kacarita jani Sangging Lobangkara kanti neked di suargan. Réh bengong pesan ia ditu sarwa ané melah-melah mawanan sing ja ia malipetan buin ka mracepada, nget ditu koné ia nongos.

Senin, 16 Oktober 2017

SATUA MAYADANAWA

Kacrita wénten prabu, maparab Sang Mayadanawa, madeg nata ring Bedahulu. Ida kaputra olih prabu Balingkang. Ida Kalintang sakti. Wewengkon jagat idané jimbar pisan. Panjak idané akéh, sami nungkul tan purun tempal ring linggih Ida Sang Prabu.

Marasa ring raga sakti, mawastu metu kayuné momo angkara. Banget nyumbungang raga mitaen tekén tanwénten sané prasida pacang ngasorang. Laksanan idané nenten manut malih ring sesanan prabu. Ida purun mamada-mada dewa. Panjak idané tangra kaluarga mayadnya utawi ngaturang bakti majeng ring Ida Sang Hyang Widhi, miwah ring para dewatané sami. Kabaos dewane' sampun sami kasor antuk kesaktian idane. lndik punika ngawinangjagate biota, panjaké takut mayadnya.

Punggeling crita, wénten mangku mapesengan Kulputih sareng mangku ring desa-desa, ngawéntenang yadnya ring pura Besakih. Nunas pauwus mangdené prasida ngasorang prabu mayadanawa. Pinunasé kadagingin raris medal Ida Betara Indra kasarengin olih Ida Batara Mahadewa, nginkinang naya pacang nyiatin Prabu Mayadanawa.

Pakinkiné punika sampun kapirengan olih Prabu Mayadanawa. Ida nauhin wadwané kapucukin olih Patih Kalawong, digelis ngwangun gelar ring Tegal Wera. Gelaré punika kawastanin Ukir Segara. lrika yudané macepuk. Wirayodan Batara Indra nganepin wirayudan Sang Mayadanawa. Prabu Mayadanawa sareng Patih

Kalawong raris nyuti rupa dados widyadara. Widyadara punika katangehang malih nyuti dados busung. Wawu pacang kasempal raris melesat dados paksi ageng, taler katanggehang.

Rikala wengi Pati Kalawong Ianga ka alas Pagulingan, ngredana klebutan toya sané madaging cetik. Akeh reke wirayodan Betara Indrané lampus usan nginum toyane punika. Nyingak kawéntenan punika BataraIndrararisnancebangsanjatanidanésanéngewetuang toya ening. KawastaninTirta Empul Tirtané punika kaanggen nyiratin wirayodané sané lampus makawinan sami malih maurip.

Sang Prabu Mayadanawa merasa kuciwa ngarepin raris malih malayu Rauh ring Tampak Siring, Ida nyuti rupa dados padi. Wau padiné pacing kaabas malih ida dados Mayadanawa tur malayu nyikiang raga nyutirupa dados batu ageng. Batuné punika kapanah olih Sang Sanaraja Brahma sareng mantri Sutabayu punika manggalan wirayodan Batara Indrané Panahé ngeninin dadan Prabu Mayadanawa.

Rahidané muncrat, ngebekin toya tukad Petanune Toya tukadé kapastu olih Batara Indra miwah Batara Mahadewa, tan dados anggén ngecokin carik, wewangunan, miwah saha naring yadnya. Toyané punika kabaos mala.

Asapunika panados anake nyumbungang raga, nvapa kadi aku, pamuput janten  kaon.

Senin, 09 Oktober 2017

Perkembangan Agama Hindu Di Bali Setelah Kemerdekan Indonesia

Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. kemerdekaan itu diperoleh berkat perjuangan keras dari bangsa Indonesia terhadap penjajah.

Sejak kemerdekaan itu negara kita terlepas dari penjajahan. Bangsa kita mengatur negaranya sendiri berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal itu juga mempengaruhi aktivitas kehidupan beragama yang dulunya berbeda-beda pada setiap wilayah kerajaan, setelah kemerdekaan dapat diseragamkan seperti perayaan Nyepi. Lebihlebih pada tanggal 3 Januari 1946 berdirilah Departemen Agama yang mengatur dan membenahi pelaksanaan dan kehidupan beragama. Walaupun Departemen Agama telah terbentuk, Agama Hindu pada saat itu belum mendapat pengakuan, akan tetapi berkat perjuangan yang terus dilakukan, Agama Hindu mendapat pelayanan dari Pemerintah. Berkat perjuangan itu maka di Bali dibentuk Dinas Agama Otonom Daerah Bali yang terus berjuang agar Agama Hindu segera mendapat pengakuan dari Pemerintah. Akhirnya pada tahun 1963 dengan keputusan Menteri Agama No. 100 tahun 1962 Agama Hindu akhimya diakui secara Nasional.

 Usaha-usaha untuk membina kehidupan beragama di Bali khususnya Agama Hindu terus ditingkatkan. Tanggal 21 sampai dengan 23 Pebruari 1959 diadakan pertemuan/pesamuan agung pada umat Hindu yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah Provinsi dan kabupaten, Kepala Kantor Agama Kabupaten serta Pemimpin Organisasi dan Yayasan yang bercorak kehinduan.Dalam pesamuan agung itu diputuskan suatu dewan yang bernama “Parisdha Hindu Dharma” Bali dengan susunan pengurus terdiri dari 11 orang Sulinggih dan 22 orang paruman Welaka. Tugas pengurus adalah mengatur, memupuk dan mengembangkan kehidupan beragama di Bali.

Sejak berdirinya Parisadha Hindu Dharma Bali yang kemudian disingkat PHDB, tugasnya sangat berat karena agama Hindu waktu itu belum diakui secara nasional. Agar mendapat pengakuan membutuhkan perjuangan dan perlunya menilai perkembangan jaman. Maka pada tanggal 3 Oktober 1959 diadakan Pesamuan Agung I Parisadha Hindu Dharma Bali (PHDB) di SMP Dwijendra. Pada saat itu diputuskan untuk menerbitkan buku agama Hindu untuk sekolah-sekolah di Bali yang berjudul “Dharma Prawerti Sastra”. Dengan tersebarnya buku agama Hindu ini ke sekolahsekolah kemajuan agama Hindu mulai tampak. Pada tanggal 4 Juli 1959 atas dukungan Yayasan Dwijendra berdirilah Sekolah Pendidikan Guru Atas Hindu Bali (PGAH Bali). Dan dinegerikan oleh pemerintah pada tahun 1968. Sekolah PGAH Bali ini mendidik generasi muda untuk menjadi guru agama Hindu yang nantinya bertugas di sekolahsekolah yang ada di Bali.

Selanjutnya pada tanggal 19 Maret 1960 diadakan Pesamuan Agung II di Balai Masyarakat Kota Denpasar menyusul Pesamuan Agung III dan IV tahun 1960. Pada tanggal 21 Oktober 1961 berlangsung Pesamuan Agung V bertempat di SMP Dwijendra Denpasar. Keputusan yang penting diambil pada Pesamuan Agung itu adalah rencana penyelenggaraan Karya Eka Dasa Rudra pada tahun 1963. Pada

tanggal 17 sampai 23 Nopember 19.61 Pesamuan. Agung diselenggarakan di Campuan Ubud di Pura Gunung Lebah.
Pada Pesamuan ini dibicarakan pengasrama para Pendeta (Sulinggih) yang disebut “Dharma Asrama”. Keputusan yang terpenting diputuskan pada saat itu adalah tentang “Piagam Campuhan Ubud .yang berisi tentang keputusan penting bagi perkembangan agama Hindu selanjutnya

Isi dari Piagam Campuhan Ubud adalah 5

1. Mengenai Dharma agama meliputi tentang pengakuan Weda Sruti sebagal inti ajaran Hindu dan Dharma Sastra Smerti sebagai tuntunan ajaran Sustra.  Tentang pendirian Perguruan Tinggi Agama, Pendirian Padmasana pada setiap Kahyangan Tiga, serta tentang pedewasan Hari Raya.
2. Mengenai Dharma Negara meliputi tentang kemerdekaan, percobaan senjata nuklir, menjunjung tinggi Pancasila, memperjuangkan agama Hindu agar  menjadi bagian dari Departemen Agama, memupuk semangat gotong royong dan membenarkan petugas dengan berpakaian dinas masuk dan melakukan persembahyangan di pura-pura.

Sebagai tindak lanjut dari isi Piagam Campuan Ubud maka pada tanggal 3 ' Oktober 1963 didirikan “Maha Widya Bhawana” Institut Hindu Dharma (IHD)”. Maha Widya Bhawana/Institut Hindu Dharma (IHD) sekarang bernama Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Dengan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Hindu ini, banyak generasi muda yang melanjutkan pendidikannya di sini. Sehingga ajaran agama Hindu yang bersurat dan tersirat dalam kitab suci serta di lontar-lontar dapat digali, diterjemahkan dan disampaikan kepada umat

Dengan adanya IHD dan Parisadha Hindu Dharma Bali (PHDB) ajaran Hindu terus digali dan dirumuskan disesuaikan dengan dunia pendidikan sehingga agama Hindu tidak dipelajari oleh orang-orang tua saja, tetapi dipelajari oleh generasi muda melalui sekolah-sekolah maupun Perguruan Tinggi. Selanjutnya disetiap provinsi dan kabupaten diseluruh wilayah negara Republik Indonesia berdirilah Parisadha. Pada tanggal 7 sampai [0 Oktober 1964 dilaksanakan Mahasabha ] yang dihadiri oleh utusan Parisadha seluruh Indonesia dan memutuskan tentang penyempurnaan Lembaga Hindu Parisadha Hindu Dharma Bali menjadi Parisada Hindu Dharma. 

Pada tanggal 2 sampai 5 Desember 1968 diselenggarakan Mahasabha 1] di Denpasar dilanjutkan dengan Pesamuhan Agung yang dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 21 sampai 24 Februari 1971 yang menghasilkan rumusan dibidang Dharma Agama dan Dharma Negara. Rumusan itu meliputi pengajuan usulan kepada Pemerintah Pusat agar perayaan Hari Raya Nyepi menjadi hari libur nasional.

Mahasabha III diselenggarakan tanggal 27 sampai 29 Desember 1973 di Denpasar dan Mahasabha IV diselenggarakan pada tanggal 24 sampai 27 Desember 1980 di Denpasar. Mahasabha ini menghasilkan beberapa keputusan penting yaitu prihal tempat suci dan kepanditaan 

Mengenai hari raya Nyepi setelah 12 tahun masa pengajuannya kepada Pemerintah, berdasarkan Keputusan Pemerintah nomor 3 Tahun 1983, Hari Raya Nyepi diakui sebagai hari libur nasional. 

Selanjutnya diselenggarakan Mahasabha V pada tanggal 24 -27 Pebruari I986 memutuskan tentang ajaran agama dan pesantian Hindu atau Widyalaya. Selain itu dilakukan perubahan nama dari Parisadha Hindu Dharma Bali Menjadi Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI). 

Mahasabha VI diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 9 sampai 14 September l99l. Mahasabha ini diputuskan pemilihan tempat kerja pengurus yaitu pengurus PHD! yang melaksanakan Dharma Negara berkedudukan di Jakarta dan yang menangani Dharma Agama berkedudukan di Bali. Pada Mahasabha VII dan VIII terjadi perubahan struktur kepengurusan PHD]. 

Parisadha memberikan pemahaman ajaran agama Hindu kepada umat. Parisadha Hindu Dharma lndonesia (PHD!) adalah merupakan lembaga tertinggi Umat Hindu yang berfungsi menata, merumuskan ajaran dan mengembangkan kehidupan beragama Hindu sehingga terus dapat berkembang sejalan dengan perkembangan jaman. Parisadha memberikan pemahaman ajaran Agama Hindu kepada umat melalui ceramah dan dharma tula. 

Kenyataannya memang perkembangan umat Hindu sudah demikian meluasnya sampai ke luar Pulau Bali, tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. 

Perkembangan itu disebabkan, antara lain oleh karena hal-hal sebagai berikut: 

1). Banyaknya umat Hindu dari Bali yang bertransmigrasi ke Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua dan daerahdaerah lainnya. 

2). Tugas pekerjaan dan belajar di kota besar ke luar Bali. 

3). Pengaruh agama dan budaya leluhur (Hindu) pada penduduk asli di berbagai daerah di luar Bali, mengukuhkan diri untuk beragama Hindu, misalnya di Jawa Timur, yaitu Suku Jawa di Tengger, Blitar, Malang, Banyuwangi dan Madura. Di Jawa Tengah; yaitu Suku Jawa di Klaten, Boyolali, Sragen, Surakarta dan Yogyakarta. Di Sumatra, Kalimantan Tengah (Suku Dayak dan Kaharingan) di Sulawesi dan sebagainya. 

Demikian pula halnya dengan adanya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha di DepartemenAgama RI, maka dibentuklah Lembaga Penyelenggara Penterjemah dan Penerbit Kitab Suci Veda dan Dharmapada pada tahun 1962 yang diketuai oleh Gede Pudja, MA. 

Adapun buku yang telah diterbitkan, antara lain Bhagavadgit’i, Manavadharmasastra (Manu Smrti), Aspek-aspek Agama Kita, Veda Parikrama, Isa Upanisad, Siva Sesana, sarasamuccaya, Brahmanda Purana, Brhadaranyaka Upanisad, Rgveda, Samaveda, Yajurveda, Atharvaveda, Chandogya Upanisad dan banyak lagi yang lainnya. ' 

Begitu pula di Bali ada salah seorang tokoh terkemuka, yakni seorang guru yang mahir dalam Sastra Bali dan Jawa Kuna (Kawi) serta mahir di bidang agama 1 adalah I Gusti Bagus Sugriwa, Beliau lahir tanggal 4 Maret 1900, meninggal tanggal 22 Nopember 1977. Beliau ini sangat besar jasanya dalam merintis menulis Sastra Bali, Jawa Kuna serta menulis ajaran agama Hindu. Karya-karya Beliau diterbitkan dalam bentuk buku yang diterbitkan oleh Toko Buku Balimas di Denpasar, diterbitkan sekitar tahun 1950-1970. Adapun karya Beliau, antara lain: Hari Raya Bali Hindu (1957) Kakawin Bharata Yudya (1958), Kakawin Sutasoma 

(1959), Kekawin Ramayana (1960), Sarasamuccaya (1967)), Dwijendra Tattwa (1967) serta masih banyak lagi yang lainnya. 

Juga ada orang India yang bernama Narendra Dev Pandit Sastri mendirikan Bhuwana Sarasvati Publication di Denpasar yang menerbitkan buku-buku tentang Agama Hindu seperti Tri Sandhya dan Veda Parikrama. 

Patut kita syukuri juga dalam perjuangan Pengurus Parisada, selama 12 tahun menunggu (dari 1971-1983) akhirnya Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka) diakui secara nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 3 Tahun 1983, tertanggal 19 Januari 1983. Dengan demikian pada hari Raya Nyepi (tahun Baru Saka) dinyatakan sebagai hari libur nasional. Sedangkan hari raya yang lainnya, seperti Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Sarasvan dan Sivaratri belum diakui secara nasional, tetapi pemerintah memberikan cuti untuk merayakannya. 

Selanjutnya perkembangan tentang pemahaman ajaran agama terus dipicu dengan arahan dari Pemerintah Daerah Tingkat 1 Bali, bersama Parisada sampai ke tingkat desa agar umat Hindu : 

l). Membiasakan diri memakai salam dalam umat Hindu (Om Swastyastu). 

2). Mampu mengucapkan mantram Tri Sandhya serta mengetahui arti dan maksudnya. 

3). Meningkatkan pencerahan melalui sarasehan, ceramah (Dharma Wecana), diskusi (Dharmatula) dan pesantian (Dharmagita). 

4). Melaksanakan Sivaratri Puja (pada purwaning Tilem kepitu) dan malam sastra pada hari Sarasvati. 

Dimana kedua hari raya tersebut membawa dampak positif bagi umat Hindu ke depan. Hal ini dapat dilihat pada kenyataannya sampai saat ini umat makin 

bergairah merayakan hari raya tersebut. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) adalah lembaga tertinggi (majelis 

umat Hindu) yang bertugas menata, merumuskan dan mengembangkan ajaran serta kehidupan beragama Hindu sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam mengantisipasi perubahan itu para pengurus Parisada, intelektual Hindu bersama unsur pemerintah mengadakan kajian ulang terhadap sastra-sastra Hindu 

untuk dapat disesuaikan dengan pola kehidupan masyarakat, seperti dilaksanakannya Susunan Kesatuan Tafsir terhadap aspek-aspek Agama Hindu. 

Semua ini menghasilkan keputusan yang menyangkut pelaksanaan kehidupan beragama sehari-hari. Juga dilaksanakan paruman sulinggih yang tujuannya untuk menyamakan persepsi (pandangan) tentang kewajiban (swadharma) sulinggih dan hari baik-buruk (ala ayuning dewasa) dalam pelaksanaan yadnya. 

Jadi dapat disampaikan ., bahwa perkembangan agama Hindu setelah kemerdekaan Indonesia mengalami suatu perkembangan yang mengembirakan Serta peningkatan baik dari segi kualitas pemahaman maupun dari kuantitas umatnya juga mengalami kemajuan, umat Hindu tidak lagi merasa rendah dari karena agama Hindu bukan agama bumi, tapi agama wahyu. 

3. Hasil-hasil Pembangunan yang Bernuansakan Agama Hindu setelah Kemerdekaan Indonesia 

Umat Hindu patut berbesar hati menjadi generasi penerus Hindu karena agama Hindu adalah agama tertua di dunia bisa ajeg sampai sekarang bahkan terus berkembang. Kita wajib bersyukur dan berterima kasih kepada para pejuang agama (misionaris Hindu) yang dengan gigih dan semangat tinggi memperjuangkan kepada pemerintah agar dapat pelayanan sebagaimana mestinya. Berdasarkan data kepustakaan dan pengalaman di masyarakat setelah kemerdekaan banyak mengalami kemajuan baik secara fisik (material) maupun non material (mental spiritual) tentang pembangunan yang bernuansa Hindu demi ajegnya agama Hindu. 

Adapun hasil-hasil pembangunan tersebut adalah sebagai berikut: 

a. Pembangunan di Bidang Fisik (Material) 

l). Awalnya Majelis Agama Hindu bernama “Parisada Dharma Hindu Bali” kemudian dirubah menjadi Parisada Hindu Dharma Bali. Akhirnya berubah lagi menjadi “Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)". Ini menandakan bahwa agama Hindu bukan hanya ada di Pulau Bali saja melainkan sudah tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. 

2). Dibangun/didirikannya perguruan/sekolah yang bercorak Hindu, seperti sekolah Pendidikan Guru Agama Hindu (PGAH) di Denpasar yang didirikan tanggal 4 Juli 1959 dan dinegerikan oleh pemerintah tahun 1968. Diikuti oleh kota lainnya, seperti Singaraja, Karangasem, Tabanan, Mataram dan Klaten dengan adanya Perguruan Saraswati dan Perguruan Dwijendra. 

3). Adanya perguruan tinggi agama Hindu awalnya dengan nama Maha Widya Bhawana/Institut Hindu Dharma” kemudian mengalami perkembangan dalam sekian tahun menjadi Univeritas Hindu Indonesia (UNHI). 

4). Selanjutnya Sekolah Pendidikan Agama Hindu Negeri dijadikan Perguruan Tinggi Agama Hindu dengan nama Akademi Pendidikan Guru Agama Hindu (APGAH) kemudian dirubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH). Sekolah seperti ini juga berdiri di Mataram, Klaten, Lampung dan Kalimantan Tengah, Sekolah Tinggi Agama Hindu Denpasar berhasil dinegerikan dan namanya dirubah menjadi Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN). 

5). Adanya pesraman-pesraman di berbagai daerah sebagai tempat generasi muda Hindu memperdalam agama Hindu, bahkan adanya sistem belajar agama Hindu yang disebut dengan Gurukula di Bangli. 

6). Banyak tempat suci (pura) tersebar di seluruh pelosok tanah air Indonesia. seiring dengan berkembang dan menyebarnya umat Hindu. Seperti misalnya Pura Puncak Gunung Raung, Pura Penataran Giri Purwa, Pura Sri Satyaloka, Pura Sandya Dharma di Banyuwangi, Pura Girinata di Kediri, Pura Penataran Prabu Bhuwana di Blitar, Pura Desa Gelanggang di Malang, Pura Mandara Giri Semeru Agung di Lumajang, Pura Cadu Sakti di Lampung, Pura Giri Jaya Natha di Balikpapan, Pura Giri Wisesa di Kutai, Pura Agung Amerta Bhuwana di Batam dan banyak lagi yang telah tersebar di seluruh pelosok tanah air. _ 

7). Khusus di Bali baik itu gedung milik pemerintah maupun swasta sudah menampilkan seni budaya/Hindu dengan omamen/pahatan cerita yang dipetik dari Epos (Wira Carita) Ramayana dan Mahabharata. 

8). Dengan berkembangnya sekolah seni, seperti seni ukir, tabuh dan tari, Institut Seni Indonesia (ISI), Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan sebagainya menyebabkan segala sesuatu itu diwujudkan dalam bentuk fisik. 

9). Buku ajaran agama Hindu terus ditulis oleh para cendekiawan Hindu untuk diajarkan kepada generasi Hindu di sekolah, perguruan tinggi masyarakat dan pengasraman.


 b). Pembangunan di Bidang Mental Spiritual 

1). Sebelum diakui oleh pemerintah, ajaran agama Hindu sudah dapat ditemui oleh umat dan suku lain di Indonesia. Masuknya pemakaian iStilah-istilah Hindu seperti nama lambang negara (burung garuda), pita yang tertulis di kaki burung garuda berbunyi Bhinneka Tunggal Ika, nama-nama gedung pemerintah baik di pusat maupun di daerah memakai istilah Hindu, seperti Bina Graha, Wana Bhakti, Narigraha, Jaya Sabha dan sebagainya. 

2). Pelaksanaan Utsawa Dharmagita secara' terus menerus adalah salah satu cara menggali mutiara ajaran Hindu yang didapat dalam susastra atau pustaka suci. 

3). Memberikan Dharma Wecana oleh para tokoh Hindu baik di media cetak (koran, majalah) 'maupun lewat elektronik (radio, televisi) bahkan telah dikasetkan dan dibuat dalam bentuk Compac Disc (CD). 

4). Mengadakan pengasraman kelas setiap libur panjang (libur akhir tahun ajaran) untuk memberikan pendalaman ajaran agama kepada peserta didik. 

5). Pemerintah dengan surat keputusan Gubernur mewajibkan setiap desa pekraman agar mengadakan pengasraman kepada generasi muda untuk mendalami ajaran agama Hindu melalui praktik, seperti: persembahyangan, membuat sarana upakara, ceramah, diskusi, tanya jawab, dan sebagainya. 

6). Di bidang pendidikan pemerintah terus mengadakan perbaikan kurikulum agama Hindu untuk disesuaikan dengan perkembangan zaman dan pendidikan nasional.

7). Para pendidik agama Hindu diberikan penataran dan pelatihan oleh pemerintah ' agar dapat mengajarkan agama Hindu dengan baik dan benar sehingga nantinya dapat berhasil guna dan berdaya guna.