Jumat, 28 Maret 2025

Cara Menghaturkan segehan

 Menghaturkan Segehan



Terkait menghaturkan segehan, tentunya terdapat berbagai ragam rupa, bentuk dan jenis-jenis segehan.

Yang akan dijelaskan ini adalah cara dasar yang universal untuk menghaturkan persembahan ke alam-alam bawah, yang dapat digunakan untuk menghaturkan berbagai jenis segehan [kecuali untuk segehan saiban karena caranya berbeda]. Caranya sebagai berikut.

Pertama-tama perlu diperhatikan bahwa, ketidak-tepatan yang sering terjadi dalam menghaturkan segehan adalah tidak memperhatikan arah pengider-ideran Panca Dewata yang tepat.

Misalnya nasi warna putih pada segehan seharusnya di arah timur justru dipasang di arah barat. Padahal ketika kita menghaturkan segehan sangat penting untuk meletakkan posisi segehan pada pengiderideran yang tepat. Jangan diletakkan secara sembarangan, karena ini berkaitan dengan kekuatan suci Sanghyang Panca Dewata dan hal-hal lainnya. Sehingga segehan sebagai segel suci niskala ini nantinya kekuatannya benar-benar dapat bekerja.

Sama seperti canang, segehan jika dihaturkan sesuai dengan pengider-ideran yang tepat, juga merupakan segel suci niskala yang memiliki kekuatan kerja-nya sendiri. Tapi kekuatan-nya akan lebih aktif jika kemudian segel suci niskala ini kita hidupkan dan gerakkan dengan kekuatan mantra-mantra suci, tirtha [air suci], dupa dan kekuatan sredaning manah [kejernihan dan kebaikan pikiran].

Menghaturkan segehan harus diawali dengan niat sebagai belas kasih dan kebaikan kepada para mahluk-mahluk alam bawah dan dijalankan sebagai sebuah upaya untuk mengurangi kesengsaraan mereka. Pancarkan rasa belas kasih dari hati kita danp ancarkan rasa damai dari upaya kita.

Sifat mahluk alam-alam bawah sebenarnya tidaklah jahat. Mereka menjadi berbahaya karena manusia takut, menghakimi atau tidak menyukai mereka. Ketakutan, penghakiman atau rasa tidak suka ini membuat adrenalin di dalam diri manusian Naik, dimana adrenalin yang naik ini menghasilkan energi yang dirasakan oleh mahluk alam-alam bawah sebagai kekuatan yang hendak menyerang mereka. Itulah sesungguhnya yang menyebabkan mereka berbahaya.

Mahluk-mahluk bawah menjadi garang atau menjadi penuh kasih sayang, semuanya tergantung pada apa yang kita lakukan. Jika kita garang, mereka akan menyerang. Tapi jika kita memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, mereka akan menjadi penjaga yang sangat meyakinkan. Oleh karena itu, belajar memandang mahluk-mahlukb awah sebagai mahluk-mahluk menderita yang memerlukan pertolongan kita. Minimal setidaknya jangan berpikiran buruk pada mereka. Jauh lebih bagus lagi jika kita mendoakan mereka. Keberadaan mereka seperti siklus berputarnya bunga yang dapat berevolusi menjadi sampah dan sampah yang dapat berevolusi menjadi bunga.

Demikianlah evolusi jiwa-jiwa dalam siklus samsara, sesuai akumulasi karma kita masing-masing. Yang kita sebut sebagai mahluk-mahluk alam bawah, sangat mungkin di kehidupan-kehidupan sebelumnya adalah sesama manusia, yang bahkan kita kenal dekat. Alam kegelapan adalah sisi sampah dari alam suci. Tanpa kegelapan tidak ada kesucian. Tapi hakikat di dalam semua makhluk adalah sama, yaitu Atman.

Sehingga menghadapi mereka, selalu dengan pikiran positif, tenang-seimbang, penuh belas kasih dan kebaikan. Lihatlah mereka bukan sebagai mahluk-mahluk jahat, melainkan sama seperti kita, yaitu makhluk yang sedang belajar berkembang menuju kesadaran Atma.

Dalam ajaran dharma kita memberikan mereka persembahan, serta mendoakan mereka agar mereka damai dan bahagia. Ini merupakan bentuk belas kasih dan kebaikan kepada semua makhluk, sekaligus menebarkan energi keharmonisan dan kedamaian ke semua arah. Sebagai hasilnya, minimal setidaknya mereka tidak akan mengganggu kita.

Seburuk apapun para mahluk bawah tersebut, teruslah melihat mereka mahluk-mahluk baik, yang karena berbagai sebab saat ini sedang mengalami kesengsaraan, sehingga sangat memerlukan kebaikan hati kita. Ini satu-satunya cara untuk merubah mereka agar menjadi mahluk baik. Begitu mereka menjadi mahluk baik mereka tidak saja tidak akan mengganggu kita, tapi sekaligus di dalam diri jiwa kita sendiri juga menjadi terang dan indah.

Inilah urutan tata-cara dasar untuk menghaturkan persembahan segehan ke sor [ke alam-alam bawah], sebagai berikut di bawah ini.

A. Langakah- Langkah Menghaturkan Segehan

Langkah 1

Cara menghaturkan segehan adalah dengan meletakkannya di natah [tanah, lantai], atau di bawah, yaitu di Ibu Pertiwi, jadi bukan diletakan pada palinggih. Saat meletakkan [menghaturkan] segehan, kita juga harus memperhatikan arah mataa ngin terkait pengider-ideran Panca Dewata dan tata letak warna-warni segel kosmik pada segehan yang sesuai [misalnya nasi warna putih pada segehan di arah timur].

Pada waktu menghaturkan segehan hendaknya didampingi dengan menghaturkan canang. Canang ini berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata. Jangan lupa juga saat meletakkan [menghaturkan] canang ini memperhatikan arah mata angin terkait pengider-ideran Panca Dewata.

Tapi jika saat menghaturkan segehan tidak dapat kita dampingi dengan menghaturkan canang, maka selayaknya dalam ituk-ituk pada segehan kita isi dengan sedikit bunga. Bunga ini sama berfungsi sebagai segel naungan kekuatan para Ista Dewata.

Langkah 2

Selipkan sebatang dupa pada segehan, atau kita tancapkan di tanah.

Secara tradisional, pada segehan juga dipergunakan api takep [dari dua buah sabut kelapa kering yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda silang tapak dara atau swastika].

Tapi di jaman modern ini kita boleh cukup dengan menggunakan dupa saja, karena yang terpenting adalah kehadiran api-nya.

Dupa [atau api takep] adalah segel niskala untuk mengundang turunnya kehadiran Sanghyang Triyodasasaksi [tiga belas manifestasi Sanghyang Acintya] sebagai saksi semesta pelaksanaan sebuah yadnya, Sanghyang Agni sebagai penghantar yadnyad dan Sanghyang Brahma sebagai penerang jiwa semua mahluk.

Langkah 3

Kita lanjutkan dengan metabuh.

Kita tabuhkan berem dan arak dengan disiratkan memutar mengelilingi segehan [dan canang] ke kiri atau berlawanan arah dengan jarum jam sebanyak 3 [tiga] kali. Memutar ke kiri adalah simbolik [segel niskala] dari kekuatan memutar ke arah bawah [turun], atau dihantarkan ke alam-alam bawah.

Metabuh ini kita lakukan sambil mengucapkan mantra :

“Om ibek segara, Om ibek danu, Om ibek banyu premananing hulun“

Catatan :

Saat menyiratkan memutar ke kiri pertama ucapkan mantra “Om ibek segara”, menyiratkan memutar ke kiri kedua ucapkan mantra “Om ibek danu” dan

menyiratkan memutar ke kiri ketiga ucapkan mantra

 “Om ibek banyu premananing hulun“.

Langkah 4

Siratkan tirtha [air suci] sambil mengucapkan mantra :

“Ong Mang Parama-Shiwa amertha ya namah svaha“

Langkah 5

Ayabang segehan dengan menggunakan tangan kanan. Jepit bunga dengan jari telunjuk dan jari tengah. Gerakan ngayabang harus lembut dan jelas, dari sisi luar belakang ke arah depan. Sambil mengucapkan mantra menghaturkan segehan dan menyomiakan sarwa bhuta, untuk pencapaian kebahagiaan dan bebasnya dari kesengsaraan dari sarwa bhuta tersebut.

Terdapat 2 pilihan mantra untuk memberikan persembahan segehan ke alam-alam bawah. Mantra yang mana saja boleh kita gunakan [ucapkan]. Yaitu sebagai berikut.

Mantra pilihan pertama :

“Om Ang Kang Kasolkaya Isana wosat,
Om swasti-swasti sarwa bhuta sarwa kala sukha pradana ya namah svaha,
Om A Ta Sa Ba I sarwa butha sarwa kala
murswah wesat Ah Ang,
Ong sah wesat ya namah svaha,
Om shanti shanti shanti Om“

Mantra pilihan kedua [lebih pendek] :

“Om Sa Ba Ta A I Panca Maha Bhuta ya namah svaha,
Om swasti-swasti sarwa bhuta sarwa kala sukha pradana ya namah svaha,
Ong sah wesat ya namah svaha,
Om shanti shanti shanti Om“

Intisari dari makna 2 [dua] mantra tersebutadalah mendoakan mahluk-mahluk bawah agar mereka bahagia bebas derita.

Langkah 6

Kemudian kita lakukan metabuh sekali lagi [metabuh kedua]. Kita tabuhkan berem dan arak dengan disiratkan memutar mengelilingi segehan [dan canang] ke kanan atau searah dengan jarum jam sebanyak 3 [tiga] kali. Ini adalah memutar dengan arah yang sebaliknya dari metabuh yang pertama.

Memutar ke kanan adalah kekuatan memutar ke arah atas [naik], atau mengangkat naik ke alam-alam suci. Ini disebut ngeluhur, yaitu kekuatan untuk menghantar naik ke alam-alam suci.

Metabuh ini kita lakukan sambil mengucapkan mantra :

“Om ibek segara, Om ibek danu, Om ibek banyu premananing hulun“

Catatan :

Saat menyiratkan memutar ke kanan pertama ucapkan mantra “Om ibek segara”, menyiratkan memutar ke kanan kedua ucapkan mantra “Om ibek danu” dan menyiratkan memutar ke kanan ketiga ucapkan mantra 

“Om ibek banyu premananinghulun“.

Langkah 7

Setelah selesai metabuh, kita sirat-siratkan kembali tirtha [air suci] sambil kita mengucapkan mantra :

“Ong Mang Parama-Shiwa amertha ya namah svaha,

Om ksama sampurna ya namah svaha,

Om siddhirastu tat astu astu svaha”

Dengan demikian kita telah memberikan segehan [hidangan makanan] yang ditujukan ke sor. Kita telah melakukan upaya untuk menyomiakan sarwa bhuta [mahluk-mahlukalam bawah], serta sekaligus mengharmoniskan kembali getaran energi negatif di sekitar lingkungan kita. Dengan satu-satunya tujuan, yaitu dengan dasar

belas kasih dan kebaikan, agar semua mahluk bahagia bebas derita


B. Segehan pada tingkat rumah tangga  saat  perayaan tawur Agung Kesanga 

Segehan di tujukan kepada sang kala tiga bucari yaitu : Bhuta Buchari, Kala Bhucari, dan Durgha Bhucari :

1. Di HALAMAN MERAJAN KEMULAN dihaturkan

Segehan Agung Cacahan solas (11) Tanding dengan tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari,

Mantramnya :

“Ih Bhuta Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan cacahan 11 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantukan ring karang nguni soang-soang”

2. Di PEKARANGAN RUMAH

Dihaturkan segehan Manca Warna Sia (9) Tanding, berisikan daging ayam brumbun (ayam dengan bulu warna-warni) dengan tetabuhan arak & brem, toya anyar ditujukan kepada

Sang Kala Bhucari,

Mantramnya :

“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan manca warna 9 tanding, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”


3. Di LEBUH RUMAH atau Pamedal Karang dipasang sanggah cucuk di sebelah kanan.

Pada sanggah cucuk tersebut diletakkan peras daksina, ajuman, banten pedanan, tumpeng ketan, panyeneng dan rerasmen. Pada sanggah cucuk tersebut digantungkan juga sujang (batang bambu kecil 2 biji masing-masing diisi arak & brem)

- Haturan di sanggah cucuk tersebut ditujukan kepadaS ang Durgha Bhucari.

Ring Sor (bawah) sanggah cucuk diletakkan segehan Manca Warna sia (9) Tanding, berisi daging ayam brumbun, tetabuhan arak & brem ditujukan kepada Sang Kala Raja & Sang Bhuta Raja.

Selain itu juga dihaturkan SEGEHAN Cacah 108 (satus kutus) berisi jeroan mentah, Segehan Agung 1 tanding ditujukan kepada Sang Kala Bala & Sang Bhuta Bala.

- Atau lebih sederhana dihaturkan 1 segehan warna 9 sesuai dengan warga pangider dewata nawa sanga.

Keempat Bhuta Kala yang dihaturkan segehan di bawah ini merupakan pengikut dari Bhatari Durgha.

Mantramnya : 

“Ih kala Bhucari, manusan nira angaturaken segehan, iki tadah saji sira segehan, madaging beras, jinah paketengan pinaka pamogpog maka kirang nira, aja nyengkalen waduan sira among maka jiwa pramana waduan sira. Wus amangan anginum lah ta sira pamantuka ring karang nguni soang-soang”

Ampura yening wenten perbedaan kembali kepada desa mewicara( desa kalapatra) , kutipan puniki dimuat kembali bertujuan untuk saling berbagi mangde sami belajar lan eling ..

Matur suksma 🙏🙏

Om santi, santi, santi om